Pekanbaru 00.18 BBWI 14 Mei 2009
By : M. imron
Hidup dikota metropolis dari satu kota ke kota lain, dari Jember ke Banyuwangi, dari Malang ke Surabaya, dari Jakarta ke bandung dan dari Makasar ke Pekanbaru. Sebuah perjalanan yang indah saat-saat menunaikan perjuangan suci untuk menghidupi keluarga tercinta. Seiring dengan waktu, lajunya pergaulan, hiruk pikuknya kehidupan malam, hilir mudik dari mal satu ke mal yang lain. Banyak wajah-wajah cantik bertebaran dan setiap saat menghiasi perjalanan disela-sela pekerjaan. Sebagai manusia biasa pasti melihat wanita cantik, baik budi, lemah lembut, siap jadi kedua serta godaan saat-saat sepi menemani. Seringkali disalah arti oleh sepinya kehidupan malam sebagai temannya sepi. Tapi…….. aku sebagai manusia yang bermoral, beragama, punya iman, juga punya perasaan terhadap anak istri. Rasanya sulit sekali untuk selingkuh atau menghianati istri tercinta.
Terlalu banyak hal-hal yang indah-indah bersama pelukan waktu, tebaran sisi-sisi hati yang ingin merajut kembali tali kasih. Akankah ini godaan sepi yang menemani? Hanya ada satu kata yaitu SETIA selalu menyertai langkahku hingga diujung waktuku. Melihat rutinitas waktu dan kesempatan yang selalu menunggu, ada disetiap mata, menggoda talian iman, membuka peluang untuk berselingkuh, rasa dan karsa saling bertautan dalam jiwa.
Ada dan banyak teman, atasan, bawahan, serta para insan yang lalu lalang bersama pelukan-pelukan tangan lain, pelukan tangan kedua, pelukan hati yang lain, serta desahan-desahan nafas panjang yang bukan lahir dari pernikahan. Seiring waktu terus berlalu, bersama itu terus aktifitas waktu mencumbu rayu dengan nafas-nafas indah beserta desah-desah membisik telinga. Ini selalu terlihat dan tercipta didepan mata. Memang sisi-sisi ini takut sekali dilahirkan untuk berzina, bercumbu rayu dengan nafas lain yang tercipta tanpa pernikahan.
Selingkuh, mencari nafas-nafas merdu malam, demi untuk menumpahkan percikan air putih suci yang merupakan fitrah Illahi. Percikan-percikan air putih ini menghiasi setiap sepinya malam, dinginnya senja pagi, tumpah dari sela-sela selimut yang bergerak dengan pelan-pelan. Mungkin andai terkumpul bak lumpur putih seluas lumpur lapindo. Bagiku ini adalah penghinaan nilai suci manusia, tapi yang lain lebih baik seperti ini yang penting istri tidak mengerti, dengan beli semua akan aman dan tentram, makan duren jangan sampai dibawa pulang kulitnya. Melihat nilai-nilai suci terhianati, istri menanti diberi sisa sisa dari nafas-nafas malam. Akankah ini harus terjadi dan kualami. Mungkinlah lebih baik menikah lagi atau melacur diri dengan menghianati perkawinan suci. Lebih terhormat manakah antar nikah lagi dengan melacur diri? Lebih malu manakah antara nikah lagi dengan melacur diri? Lebih manusiawi manakah antara nikah lagi dengan melacur diri? Mengapa jarang sekali menikah lagi tapi banyak sekali laki-laki memilih melacur diri. (by – m.imron)
—————Ekplorasi Pikiranku——————-